jump to navigation

Soto Pekalongan, 1 Kurang 2 Kenyang October 6, 2007

Posted by bundarisa in Resep.
trackback

“TAOTO” SOTO KHAS ASLI PEKALONGAN : SEKELUMIT ESSAY PERJALANAN

[ Minggu, 20 Mei 2007 ]

sumber : http://www.pekalongankab.go.id 

Disela kepadatan kerja, akhirnya penulis berkesempatan untuk memenuhi permintaan salah seorang pengunjung Mas Ghofur dari Kaltim yang menghendaki ulasan tentang taoto sebagai salah satu masakan khas Pekalongan. Dengan hadirnya tulisan ini diharapkan kangen pengunjung kepada Pekalongan dapat sedikit terobati.


Alih-alih menyenangkan diri membuat liputan kuliner sekalian menghabiskan liburan di akhir minggu, dengan berbekal tape recorder penulis mulai hunting penjual (bakul) taoto yang biasa dipakai oleh Pemerintah Kabupaten sebagai salah satu penyedia menu hidangan untuk acara-acara formal maupun informal.

Sebetulnya penjual soto/taoto yang biasa dipesan untuk acara-acara Pemerintah Kabupaten tersebut tidak hanya satu karena dibuat secara berganti-ganti tergantung pihak Panitianya. Ada yang di Kauman Wiradesa terkenal dengan “Soto KTL” dan buka cabang di Kajen, ada yang di Podo Kecamatan Kedungwuni dikenal dengan Soto “Ojo Lali” dan ada pula yang di Utara Pasar Karanganyar yang merupakan cabang dari “taoto Klego”.

Karena jarak yang terjangkau dari pusat kota Kajen kurang lebih 3 Km, maka penulis meluncur ke “Taoto Klego” yang buka cabang di Utara Pasar Karanganyar. Penulis ditemui langsung pemilik warung (kedai) taoto yakni H. Rokhman beserta istrinya Hj. Nurjanah.  Setelah ngobrol sana-sini secukupnya dan selesai menyantap taoto yang telah dipesan sebelumnya, penulis mulai mewancarai narasumber.

Dari keterangan H. Rokhman dan Hj. Nurjanah, mereka buka warung taoto di Karanganyar telah berjalan hampir 4 tahun. Usahanya ini digeluti karena dari keluarga Hj. Nurjanah sebagian memang memiliki usaha warung taoto. Keahlian membuat taoto yang rasanya “mak nyuuuss” ini diperoleh dari orang tuanya yakni H. Naim. Rintisan usaha taoto yang digeluti H. Naim telah dimulai sejak tahun 1953 dan sampai sekarang usahanya telah diteruskan anak-anak dan saudara-saudaranya dengan berlabel “taoto klego Pekalongan”. Usaha berjualan “taoto” ini ternyata mampu bertahan dan tetap eksis karena taoto merupakan soto khas asli Pekalongan yang hingga sekarang tetap dicari dan digemari masyarakat.

Dari hasil wawancara sebenarnya H. Rokhim dan Hj. Nurjanah tidak menjelaskan secara terinci tentang bumbu, bahan dan cara membuat “taoto” ini, namun setelah penulis mencermati rekaman hasil wawancara dan dikonsultasikan sana-sini, maka dengan segala keterbatasan penulis tentang pengetahuan memasak, mohon dimaklumi dan dimaafkan menyajikan bahan/bumbu dan cara membuat taoto ini. Sebenarnya jika ada di buku resep masakan yang dijual ditoko-toko tentu lebih terjamin, namun tak apalah, anggap saja tulisan ini hanya sebagai second opinion yang sumbernya langsung dari penjual taoto klego.

BAHAN / BUMBU
Taoco, bawang merah, bawang putih, lombok merah, kemiri, minyak goreng, daging ayam / daging kerbau, balungan/kaldu untuk kuah, bihun (mie beras), bawang daun, kecap, garam, penyedap rasa.

Komposisi bumbu disesuaikan kebutuhan, tetapi untuk porsi kecil 2-3 orang dapat digunakan komposisi sebagai berikut :  bumbu yang dihaluskan : 5 butir bawang bawang merah, 4 siung bawang putih, 3 butir kemiri, 3 buah cabai merah, 1/2 ruas jari jahe. Bumbu dapat dihaluskan dengan blender.

Bahan : taoco 1 ons, 100 gram daging kerbau rebus hingga empuk atau 100 gram daging ayam yang telah digoreng, 1 sdt kaldu sapi bubuk atau kaldu asli dari rebusan balungan 150 gram, bawang daun satu helai diris-iris kecil, 70 gram bihun yang telah direndam air panas dan ditiriskan.

CARA MEMASAK
Panaskan 5 sdm minyak goreng, tumis (gongso) bumbu yang telah dihaluskan diatas api sedang/kecil hingga harum. Tambahkan bumbu taoco 1 ons dan aduk hingga matang (tanak).

Taoco yang telah dibumbu siap untuk dijadikan bahan taoto. Siapkan 2-3 mangkok kecil yang telah diisi 1-2 jumput bihun, garam secukupnya, penyedap rasa secukupnya, irisan daun bawang secukupnya, irisan daging secukupnya, taruh 1-2 sdm bumbu taoco yang telah masak, lalu tuangkan kuah kaldu yang masih panas sesuai kebutuhan.

Aduk hingga merata, kasih kecap secukupnya sesuai selera, dan hidanganpun siap untuk disantap. Jika ingin lebih pedas tentu saja tambahkan sambal yang dibuat dari cabai rawit yang telah dikukus/direbus dan dihaluskan (ditumbuk). Jika ingin lebih kuat aroma segarnya, boleh pula menambahkan sedikit cuka makanan yang telah diencerkan secukupnya.

TENTANG TAOCO
Taoco menjadi komponen pokok (utama) dalam masakan taoto atau soto khas Pekalongan. Tanpa taoco maka makanan tersebut tidak lagi disebut taoto tetapi soto biasa. Karena masakan soto ini menjadi masakan khas pula untuk daerah lain seperti soto Kudus, Soto Semarang yang cenderung berkuah bening karena tanpa taoco.

Kehadiran taoco sebagai penyedap makanan yang telah dibumbui menjadikan taoto memliki aroma khas dan kuahnya kental terasa sekali. Taoco diolah dari dari kedelai yang telah melalui proses dibusukkan (dimatangkan) secara khusus sehingga menghasilkan adonan seperti bubur kedelai matang dengan bentuk, cita rasa dan aroma yang sangat khas.
Menurut penjelasan H.Rokhman, taoto yang enak pasti dibumbu dengan taoco yang berkelas / bagus.

Taoco yang bermutu bagus (berkelas) tidak akan mudah ditemukan di pasar-pasar atau toko makanan biasa. Dari pengalaman yang dijalani selama berjualan taoto, bahan taoco yang berkelas di Pekalongan hanya dijumpai di Toko Kecap dan Taoco Pulau Jawa di Kota Pekalongan. Hampir semua penjual taoto/soto Pekalongan membelinya langsung dari sana. “Taoco yang baik / berkelas tidak dijual melalui pasar atau toko agen, sehingga harus datang langsung kesana”, demikian ditegaskan oleh H. Rokhman.

HARGA SANGAT EKONOMIS
Untuk seporsi taoto klego yang bisanya dipadu dengan lontong / ketupat atau nasi, pembeli cukup merogoh kocek Rp.5.000 s/d Rp.7.000,- tergantung variasi sajian daging dan bumbunya.

SATU KURANG DUA KENYANG
Hanya sekedar istilah saja, karena taoto asli khas Pekalongan akan disajikan dalam mangkuk kecil. Praktis bagi yang benar-benar lapar satu mangkuk biasanya kurang / pengin nambah, karena rasanya nyampleng dan lezat. Tapi kalo nambah semangkok lagi, dijamin kenyang.

Pertanyaannya kenapa tidak pakai mangkok standar bakso atau mie ayam saja ? menurut si empunya warung memang sengaja demikian selain juga sudah jadi tradisi turun temurun sebagai ciri khas pembeda. Dengan porsi kecil inilah karena keunggulan kelezatan rasanya “taoto Pekalongan” mampu memuaskan selera makan dan dikangeni untuk dinikmati kembali.

SOLUSI PRAKTIS
H. Rokman menegaskan bahwa bumbu taoco matang untuk bahan taoto jika proses memasaknya benar sanggup untuk bertahap kurang lebih setengah hingga satu bulan. Karenanya diberikan solusi praktis bagi yang tidak ingin repot atau untuk orang-orang Pekalongan yang diperantauan dan ingin menikmati taoto Pekalongan cukup dikirimi bumbu taoto dan tips praktis untuk meramunya.
Cukup dengan memesan bumbu taoto dan membeli bumbu taotonya saja maka pembeli dapat bereksperimen untuk meramunya dengan bahan-bahan lain kapanpun jika dikehendaki sesuai selera.

Tidak jarang H. Rokman melayani pesanan bumbu taoto untuk dikirim ke Jakarta atau ke luar Jawa sebagai oleh-oleh. Ditempat tujuan tersebut bumbu taoto masih dapat diramu sesuai kebutuhan dan bertahan cukup lama, terlebih jika bumbu tersebut terendam minyak goreng yang cukup saat proses mentumis bumbu (matang/tanak secara sempurna).

FANTASI MODEL TAOCO
Sembari menghabiskan es jeruk, penulis berimaginasi alangkah sedapnya jika di kotaku ini disaat merayakan tahun baru Islam atau merayakan hari jadi Kabupaten Pekalongan diadakan festival tahunan yang menyajikan promosi produk kerajinan batik dan tenun Pekalongan, makanan khas Pekalongan, dibarengi dengan acara hiburan rakyat,pasar tiban/pasar malam, dan kirab seni budaya.

Penulis jadi ingat makanan lainnya yang sifatnya khas dan masih digemari masyarakat Pekalongan hingga saat ini seperti kue apem Kesesi, megono, japitan model buaran, aneka jajan pasar seperti klepon, sengkulun, gemblong santan / srundeng, wajik, srabi, carabikang, olang-baling, kolang-kaling, krupuk usek, pindang tetel, wedang alang-alang, dan lainnya.

Sesaat tersadar, jadi teringat mudah-mudahan ini bukan karena pengaruh taoco yang mulai merasuki tubuh hingga ikutan berfantasi model taoco. Sekalipun jika hal ini benar, toh penulis tidak akan menyesalinya karena taoto telah menghangatkan tubuh dan pikiran untuk menumbuhkan sebersit harapan jauh kedepan, sesuatu yang lebih indah, baik dan semarak dapat terwujud di kotaku ini. (eka-Kapeditel).

Comments»

1. Kun - May 30, 2009

Y’q setuju bu4nget mang cih,mkn PeKALOn94n tC N4k2 bngt tau!!


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: